“Sebuah tunas disemaikan di dalam hatiku. Ia keputih-putihan sebelum ia menghijau, lalu perlahan rekahlah rona kuning. Diam-diam, apa yang sewarna abu dipoles menjadi satu per satu lapisan pelangi.

Aku pernah menyimpan sebuah duka yang jauh lebih besar dari apa yang bisa aku telan. Duka yang menggulung-gulung aku dalam jutaan sengsara. Kakiku pernah terbelenggu, sehingga hanya derita yang tampak dalam jarak pandangku.

Siapa yang tahu bahwa tangan-tangan yang begitu kecil dapat mengampu kasih yang lebarnya mengelilingi bumi?”

**

Ketika seorang menunggu sekian lamanya untuk memperoleh sebuah roti, maka ia akan menengadahkan tangannya untuk menampung remah-remah yang jatuh dari meja sekalipun.

Sedari dirinya kecil, Gil tahu kalau ia tak seperti anak-anak perempuan lainnya. Orang tuanya tampak selalu mengharapkan Gil untuk tumbuh menjadi seorang gadis yang menjalankan apa yang menjadi “kodratnya”.

Gil tak pernah mengetahui seperti apa rasanya diterima sebagaimana dirinya sendiri, sehingga ketika Jehoshaphat datang dengan sebuah penerimaan semu, Gil terperosok ke dalam jurang sembari menggenggam kepercayaan yang utuh pada Jehoshaphat.

Sayangnya, Jehoshaphat telah usai bermain-main. Ia melepaskan jemarinya yang masih tertaut pada jemari Gil dan membiarkan Gil terjerembab ke dasar jurang.

Belum cukup Gil harus menderita karena Jehoshaphat yang mencampakkannya, ia harus mengandung anak dari Jehoshaphat. Segala upayanya untuk tidak mempertahankan anak itu gagal, seolah-olah sedemikian besar keinginan anak itu untuk hidup.

Anak yang semula Gil kira lahir dalam pekatnya dosa ternyata menjadi cahaya yang menuntun Gil keluar dari kesesakannya. Meski melalui jalur yang terjal, Gil belajar mencintai dan tumbuh bersama sang anak, Gracia Dorothy.